DICARI KEPALA SEKOLAH YANG “MAMPU” MENINGKATKAN MUTU PENDIDIKAN

Oleh : Drs. Wannef Jambak

Dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan sesuai dengan yang diamanatkan dalam Undang-Undang No.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sidiknas), sebagai substansi dari Undang-Undang Sisdiknas tersebut nampak jelas dari visinya, .yakni terwujudnya sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga negara Indonesia berkembang menjadi manuasia yang berkualitas sehingga mampu proaktif menjawab tantangan zamanUntuk mwujudkan ini, maka peran kepala sekolah sangat diharapkan. Produk yang dihasilkan sekolah hendaknya jangan seperti pabrik yang hanya bisa menghasilkan lulusan, tetapi bagaimana agar lulusan itu berkualitas sehinga mampu menghadapi tantangan sesuai dengan perkembangan zaman.

Sesuai dengan tuntutan Undang-Undang Sisdiknas itu, maka untuk menjadi kepala sekolah haruslah mereka yang betul-betul memenuhi persyaratan, baik itu persyaratan akademik, maupun persyaratan lainnya. Dengan demikian untuk perekrutan calon kepala sekolah dengan cara “karbitan” tentu saja sudah tidak masanya lagi. Karena kemajuan sekolah, baik itu mutu, maupun lainnya, akan sangat ditentukan oleh siapa kepala sekolahnya.

Kemampuan kepala sekolah dalam berbagai hal adalah cerminan dari keberadaan sekolah itu sendiri. Seperti yang sebutkan oleh Pidarta (1990), bahwa kepala sekolah merupakan kunci kesuksesan sekolah dalam mengadalkan perubahan. Sehingga kegiatan meningkatkan dan memperbaiki program dan proses pembelajaran di sekolah-sekolah sebahagian besar terletak pada diri kepala sekolah itu sendiri.

Keberadaan sekolah-sekolah hendaknya jangan bagaikan sebuah pabrik yang hanya menghasilkan atau memproduksi lulusan saja. Artinya asal sekolah, maka akan lulus, tanpa mempdulikan apakah lulusan itu bermutu atau tidak. Kalau ternyata ini yang terjadi, maka mustahil apa yang diharapak dari Undang-Undung Sisdiknas tersebut jauh dari harapan.

Dalam hal keberhasilan kepemimpinan kepala sekolah menurut Departemen Pendidikan Nasional (2000), keberhasilan kepala sekolah akan sangat dipengaruhi oleh keperibadian yang kuat. Kepala sekolah harus mengembangkan pribadi agar percaya diri, berani, bersemangat, murah hati, dan memiliki kepekaan sosial. Memahami tujuan pendidikan dengan baik.

Pemahaman yang baik merupakan bekal utama kepala sekolah agar dapat menjelaskan kepada guru, staf dan pihak lain serta menemukan strategi yang tepat untuk untuk mencapainya. Pengetahuan yang luas. Keterampilan profesional. Dalam hal ini yang terkait dengan keterampilan itu dianataranya keterampilan tekhnis, keterampilan hubungan kemanusiaan dan keterampilan konseptual. Semua keterampilan ini merupakan modal dasar dalam upaya mencapai tujuan pendidikan sehingga menghasilkan lulsan yang bermutu dan berkualitas.

Selanjutnya Andi Kirana (1997) menyebutkan, bahwa kepemimpinan kepala sekolah hendaknya mampu memberdayakan, mengimplitasikan suatu keinginan untuk melimpahkan tanggungjawab dan berusaha membantu dalam menentukan kondisi dimana orang lain berhasil . Seorang pemimpin harus menjelaskan apa yang diharapkannya, harus menghargai kontribusi setiap orang, harus membawa lebih banyak orang “ kotak” organisasi” dan harus mendorong orang untuk berani mengeluarkan pendapat. Artinya, segala hal pekerjaan jangan hanya ditanagani sendiri oleh kepala sekoahnya, serahkan dan beri kewenangan kepada guru atau staf yang memang mempnyai kemampuan, sehingga guru ataupun staf itu, merasa terlibat karena diikutsertakan, dan pada akhirnya akan berkembang.

Hal yang sama dikemukakan oleh Mulyasa (2002), Ia menyebutkan bahwa kepala sekolah yang efektif adalah kepala sekolah yang mampu, memberdayakan guru-guru untuk melaksanakan proses pembelajaran dengan baik, lancar dan produktif. Kemudian dapat menyelesaikan tugas dan pekerjaan sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan. Seterusnya harus mampu menjalin hubungan yang harmonis dengan masyaraakat sehingga dapat melibatkan mereka secara aktif dalam rangka mewujudkan tujuan sekolah dan pendidikan.

Selanjutnya harus mampu menerapkan kepemimpinan yang sesuai dengan tingkat kedewasaan guru dan pegawai lain di sekolah. Kemudian harus bisa bekerja dengan tim manajemen, dan terakhir harus mampu mewujudkan tujuan sekolah secara produktif sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan. Tentang hal ini Pidarta (1990) menjelaskan lagi, bahwa pemimpin yang efektif itu selalu memanfaatkan kerjasama dengan para bawahan untuk mencapai cita-cita organisasi. Jadi dalam hal ini jelaslah bahwa kepala sekolah harus mampu mengajak “ kerjasama” dengan guru, staf dan pihak lainnya, untuk mencapai tujuan pendidikan sesuai dengan apa yang diharapkan.

Kepala sekolah sudah tidak tepat laku untuk memperlihatkan sikap “tertutup” pada bawahannya, karena akan bisa menimbulkan berbagai macam anggapan dari para guru, staf dan pihak komite sekolah. Yang diatkutkan, adalah ada kepala sekolah yang mempunyai sikap “tertutup” , baik itu masalah keuangan sekolah, maupun masalah laiinya, sehingga para guru, staf tidak dilibatkan. Dalam hal ini Wahjosumindo (2001) menyebutkan, peran kepala sekolah sebagai pemimpin sekolah memiliki tanggungjawab menggerakkan seluruh sumberdaya yang ada di sekolah, sehingga melahirkan etos kerja dan produktifitas yang tinggi dalam mencapai tujuan.

Selanjutnya Pidarta (1990_ menyebutkan bahawa kepala sekolah memiliki peran dan tanggungjawab sebagai manajer pendidikan, sebagai pemimpin pendidikan, sebagai supervisor pendidikan, dan sebagai administrator pendidikan. Untuk sebagai manajer sekolah misalnya, lebih lanjut Pidarta (1990) menyebutkan bahwa sebagai manajer sekoalah, maka kepala sekoah bertugas merencanakan sesuatu atau mencari strategi yang terbaik, mengorganisasi dan mengkoordinasi sumber-sumber pendidikan yang masih berserakan agar menyatu dalam melaksanakan pendidikan dan melaksanakan kontrol terhadap pelaksanaan pendidikan. Bagaimana, apakah sekolah bisa mnerapkan hal seperti ini. Tentu saja bisa, dan semuanya akan tergantung mulai dari rekrutmen kepala sekolah, sampai pada kemampuan kepala sekolah itu sendiri.

Dengan demikian dapat diambil kesimpulan, bahwa untuk menjadi kepala sekolah itu tidaklah gampang, dan harus memiliki keahlian yang dilatar belakangi dengan akademik yang memadai. Dan juga harus memahami segaala hal yang berkenaan dengan sifat-sifat kepemimpinan. Karena dikhawatirkan ada seseorang anak buah yang ternyata mempunyai potensi, namun karena tidak diberdayagunakan oleh atasan, maka segala potensi itu akan “mati” sebelum mati, artinya tidak berkembang. Semua ini damaksudkan, agar mutu pendidikan kita semakin lama semakin meningkat dan berkualitas.
Anggapan sekolah bagaikan sebuah pabrik yang hanya “ memproduksi” lulusan, akan bisa hilang dengan adanya lulusan sekolah yang bermutu dan berkualitas sehingga bisa menghadapi segala tantangan zaman. Keadaan ini akan tercipta, bila seorang kepala sekolah betul-betul punya niat yang ikhlas untuk meningkatkan mutu pendidikan di sekolahnya, dan bukan hanya berniat untuk meningkatkan jumlah lulsan, misalnya tahun kemarin 90 %, maka tahun sekarang harus 100 %, sementara mutunya terabaikan. Saat ini dicari kepala sekolah yang mampu meningkatkan mutu pendidikan, bukan yang mampu meningkatkan jumlah lulusan. —– Drs. Wannef Jambak, adalah wakil kepala SMP Negeri 2 Sirandorung, penulis pree lance dan pemerhati masalah pendidikan di Tapanuli Tengah.

    KLIK INI UNTUK KEMBALI KE AWAL

Tentang GURU TAPTENG

KUMPULAN
Pos ini dipublikasikan di Artikel Terbaru. Tandai permalink.

4 Balasan ke DICARI KEPALA SEKOLAH YANG “MAMPU” MENINGKATKAN MUTU PENDIDIKAN

  1. ekosupriyanto berkata:

    artikel bagus perlu direalisasi terutama di otda dimana kkn semakin bertambah luas bagi daerah yang ingin manu pendidikannya perbaiki rekrutmen KS dulu jangan pakai uang…………….dpr

  2. Qinimain Zain berkata:

    (Dikutip dari: Harian RADAR Banjarmasin, Jum’at 2 Mei 2008)

    Strategi Pendidikan Milenium III
    (Tengkulak Ilmu: Rabunnya Intelektual Ilmiah)
    Oleh: Qinimain Zain

    FEELING IS BELIEVING. MANUSIA adalah binatang yang menggunakan peralatan. Tanpa peralatan, ia bukan apa-apa. Dengan peralatan, ia adalah segala-galanya (Thomas Carlyle).

    DALAM momentum peringatan Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2008, sangat tepat berbenah diri. Banyak kalangan menilai betapa rendahnya kualitas sumber daya manusia Indonesia dibanding bangsa lain. Ini ditandai dengan produktivitas kerja rendah sehingga ekonomi lemah, karena tidak efesien, efektif dan produktif dalam mengelola sumber daya alam yang meski begitu melimpah.

    Lalu, mengapa kualitas sumber daya manusia Indonesia rendah?

    KAPITAL manusia adalah kekayaan sebuah bangsa dan negara, sama halnya seperti pabrik, perumahan, mesin-mesin, dan modal fisik lainnya. Diakui dimensi teknologi, strategi, aliansi global dan inovasi merupakan komponen penting yang akan mempengaruhi keuggulan kompetitif pada masa depan. Namun demikian, komponen itu masih bergantung pada kembampuan manusia (Gary S. Becker).

    Dalam ilmu matematika ada acuan dasar sederhana penilaian apa pun, yaitu posisi dan perubahan. Jadi, jika bicara kemajuan pendidikan kualitas sumber daya manusia Indonesia adalah berkaitan di mana posisinya dan seberapa besar perubahannya dibanding bangsa lain di bidangnya.

    Berkaitan dengan perubahan, ada dua cara posisi untuk unggul yaitu bertahan dengan keunggulan lokal dengan fungsi terbatas atau menyerang dengan keunggulan global dengan fungsi luas. Misal, menjadi ahli orang hutan Kalimantan yang endemik, atau menjadi ahli kera seluruh dunia. Jelas, sangat sulit menjadi unggul satu keahlian untuk global diakui secara global, sedang unggul keahlian untuk lokal diakui secara global pun – seperti tentang orang hutan Kalimantan (apalagi tentang gorila), didahului orang (bangsa) lain. Ini terjadi disemua bidang ilmu. Mengapa?

    Indonesia (juga negara terkebelakang lain) memang negara yang lebih kemudian merdeka dan berkembang, sehingga kemajuan pendidikan pun belakangan. Umumnya, keunggulan (sekolah) pendidikan di Indonesia hanya mengandalkan keunggulan lisensi, bukan produk inovasi sendiri. Contoh, sekolah (dan universitas) yang dianggap unggul di Kalimantan bila pengajarnya berasal menimba ilmu di sekolah (dan universitas) unggul di pulau Jawa (atau luar negeri). Sedang di Jawa, pengajarnya berasal menimba ilmu di luar negeri. Jika demikian, pendidikan (ilmu pengetahuan dan teknologi) Indonesia atau di daerah tidak akan pernah lebih unggul di banding pusat atau luar negeri. (Ada beberapa sekolah atau universitas yang membanggakan pengajarnya lulusan universitas bergengsi atau menonjolkan studi pustaka di Jawa dan luar negeri. Artinya, ini sekadar tengkulak atau makelar (broker) ilmu dan teknologi). Dan memang, selalu, beban lebih berat bagi apa dan siapa pun yang terkebelakang karena harus melebihi kecepatan lepas (velocity of escape), kemampuan kemajuan yang unggul di depan untuk menang. Perlu kemauan keras, kerja keras dan strategi tepat mengingat banyak hal terbatas.

    WALAUPUN Anda berada pada jalan yang benar, maka akan tergilas jika Anda cuma duduk di sana (Will Roger).

    Lalu, mengapa otak orang lain unggul? Ada contoh menarik, Sabtu 30 Juli 2005 lalu, Michael Brown dari California Institute of Technology mengumumkan “Keluarkan pena. Bersiaplah menulis ulang buku teks!”. Astronom Amerika Serikat ini, mengklaim menemukan planet ke-10 dalam sistem tata surya yang diberi nama 2003-UB313, planet terjauh dari matahari, berdiameter 3.000 kilometer atau satu setengah kali dari Pluto. Planet ini pertama kali terlihat lewat teleskop Samuel Oschin di Observatorium Polmar dan teleskop 8m Gemini di Mauna Kea pada 21 Oktober 2003, kemudian tak nampak hingga 8 Januari 2005, 15 bulan kemudian.

    Sebuah penemuan kemajuan ilmu pengetahuan luar biasa, yang sebenarnya biasa saja dan mungkin terjadi di Indonesia andai ilmuwannya memiliki alat teleskop serupa. Tanpa teleskop itu, ketika memandang langit mata kita rabun, sehingga yang terlihat hanya langit malam dengan kerlip bintang semata. Sejarah mencatat, ilmuwan penemu besar sering ada hubungan dengan kemampuannya merancang atau mencipta alat penelitian sendiri. Tycho Brahe membuat sekstan (busur derajat) pengamatan benda langit, Johannes Kepler dengan bola langit sebagai peta astronomi, Isaac Newton membuat teleskop refleksi pertama yang menjadi acuan teleskop sekarang, atau Robert Hooke merancang mikroskop sendiri. Dan, alat teknologi (hardware) pengamatan berjasa mendapatkan ilmu pengetahuan ini disebut radas, pasangan alat penelitian (software) pengetahuan sistematis disebut teori.

    ILMUWAN kuno kadang menekankan pentingnya seorang ilmuwan membuat alat penelitian sendiri. Merancang dan membuat sesuatu alat adalah sebuah cabang keahlian ilmiah (Peter B. Medawar).

    Lalu, sampai di manakah perkembangan ilmu pengetahuan (dan teknologi) di negara lain? Untuk (ilmu) pengetahuan sosial, di milenium ketiga kesejajaran dan keterpaduannya dengan ilmu pengetahuan alam, hangat di berbagai belahan dunia. Di ujung tahun 2007 lalu, Gerhard Ertl, pemenang Nobel Kimia tahun itu, kembali mengemukakan bahwa ilmuwan harus menerobos batasan disiplin ilmu untuk menemukan pemecahan beberapa pertanyaan tantangan besar belum terjawab bagi ilmu pengetahuan yaitu ilmu pengetahuan menyatu seiring waktu. Banyak ilmuwan peserta forum bergengsi itu menjelaskan tugas penting ke depan yang harus diselesaikan berkenaan masalah batas, batasan atau titik temu pada dua atau lebih disiplin ilmu. Kemudian sejalan itu, tanggal 28 – 30 Maret 2008 lalu, di Universitas Warwick, Warwick, Inggris, berlangsung British Sociological Association (BSA) Annual Conference 2008, dengan tema Social Worlds, Natural Worlds, mengangkat pula debat perseteruan terkini yaitu batas, hubungan dan paduan (ilmu) pengetahuan sosial dan ilmu pengetahuan alam dalam pengembangan teori (ilmu) sosial dan penelitian empiris, mencoba menjawab pertanyaan kompleks yang selalu mengemuka di abad ke 21 dalam memahami umat manusia. Berikutnya, tanggal 2-5 Desember 2008 nanti, akan digelar The Annual Conference of The Australian Sociological Association (TASA) 2008, di Universitas Melbourne dengan tema Re-imagining Sociology.

    Ini peluang momentum besar (yang hanya satu kali seumur dunia) bagi siapa pun, baik universitas atau bangsa Indonesia untuk berlomba memecahkan masalah membuktikan kemajuan, keunggulan dan kehormatan sumber daya manusianya di milenium ketiga ini. (Dari pengalaman, pandangan rendah bangsa lain terhadap Indonesia (dan pribadi), tergantung kualitas kita. Kenyataannya, ilmuwan besar di universitas besar di benua Eropa, Amerika, Afrika, Asia dan Australia pun, dengan rendah hati mau belajar (paradigma Total Qinimain Zain: The (R)Evolution of Social Science: The New Paradigm Scientific System of Science dengan saya) selama apa yang kita miliki lebih unggul dari mereka.

    SUMBER daya manusia harus didefinisikan bukan dengan apa yang sumber daya manusia lakukan, tetapi dengan apa yang sumber daya manusia hasilkan (David Ulrich).

    Akhirnya, di manakah tempat pendidikan terbaik belajar untuk unggul secara lokal dan global di banding bangsa lain? Di University of Reality di kehidupan sekitar! Dengan syarat (mencipta dan) memiliki alat teknologi (hardware) atau alat teori (software) hebat sendiri. Jika tidak, semua mata intelektual ilmiah rabun, karena belajar dan memahami kehidupan semesta dengan otak telanjang adalah sulit bahkan mustahil, sama halnya mencoba mengamati bintang di langit dan bakteri di tanah dengan mata telanjang tanpa teleskop dan mikroskop. Sekarang rebut peluang (terutama untuk akademisi), bangsa Indonesia dan dunia krisis kini membutuhkan Galileo Galilei, Francis Bacon, dan Rene Descartes muda. Jika tidak, akan hanya menjadi tengkulak ilmu, dan harapan memiliki (serta menjadi) sumberdaya manusia berkualitas lebih unggul daripada bangsa lain hanyalah mimpi. Selamanya.

    BODOH betapa pun seseorang akan mampu memandang kritis terhadap apa saja, asal memiliki peralatan sesuai tahapan pemahaman itu (Paulo Freire)

    BAGAIMANA strategi Anda?

    *) Qinimain Zain – Scientist & Strategist, tinggal di Banjarbaru, Kalsel, email: tqz_strategist@yahoo.co.id (www.scientist-strategist.blogspot.com).

  3. Heru Siswanto berkata:

    Makanya diperlukan sistem rekrutmen Kepala Sekolah yang adil, transparan tanpa KKN…..bisakah pihak2 terkait melaksanakannya??????

  4. Sinar Mesrawati simanullang berkata:

    Sekolah yang berkwalitas dan dapat mengikuti perkembangan dan siap untuk menghadang kemajuan zaman apabila kepala sekolah dengan para guru dapat bekerja sama dengan baik, serta memiliki manajemen yang jelas dan tersusun.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s